10 comments on “MASUK SURGA TERGANTUNG AYAT TERAKHIRNYA>>

  1. Kualitas Hadis

    Hadis di atas, selain diriwayatkan Imam Tirmidzi, juga diriwayatkan oleh Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad dan Ibnu Hibban dengan beberapa jalur periwayatan. Berikut penjelasannya.
    1. Hadis di atas lafaz dan matannya diriwayatkan Imam Tirmidzi di dalam kitabnyaSunan Al-Tirmidzi Juz 10 nomor 2838. Sebagaimana terlihat, dalam jalur periwayatannya terdapat Mahmud bin Ghailan. Menurut para ahli hadis, Mahmud termasuk perawi yang sebagian hadis-hadisnya dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya, dan sebagian lainnya tidak. Hal ini dikarenakan dia sering ditemukan lupa (pikun) dalam menyampaikan beberapa hadis di masa tuanya. Meski demikian, hadis ini disampaikannya sebelum ia terlalu tua dan pikun. Oleh karenanya, Tirmidzi masih bisa memaafkan dan mengambil hadis ini darinya. Hadis ini juga diriwayatkan Tirmidzi dari Bundar dari Abdurahman bin Mahdi dari Sufyan dari ‘Ashim dari Zir dari Abdullah bin ‘Amr dari Nabi Muhammad saw. Jalur periwayatan ini tidak terdapat masalah, meski kualitas perawi Bundar itu shuduq (diakui kejujurannya) serta tidak sebaik perawi-perawi sebelumnya yang tsiqqah (terpercaya).

  2. 2. Tirm idzi juga meriwayatkan hadis serupa dengan lafaz dan matan yang berbeda dengan hadis di atas, terdapat di dalam Juz 10 nomor 2839. Jalur periwayatan hadis ini adalah: (a) Nashr bin Ali, Abdus Shomad bin Abdul Waris, Syu’bah, ‘Ashim, Abu Sholih, Abu Hurairah, Nabi saw. (b)Muhammad bin Basyar, Muhammad bin Ja’far, Syu’bah, ‘Ashim, Abu Sholih, Abu Hurairah. Sanad pertama adalah marfu’ (Nabi Muhammad benar-benar menyampaikan hadis ini dan para perawi menyebutkan atau menyandarkannya kepada Nabi). Berbeda dengan sanad kedua yang mauquf, yakni para perawi tidak menyebutkan bahwa hadis ini berasal dari Nabi, tetapi dari sahabat Abu Hurairah. Meskipun demikian, kualitas sanad kedua lebih bagus dibanding sanad pertama karena Muhammad bin Ja’far lebih tsiqqah (terpercaya) dan lebih kuat hafalannya dibanding Abdus Shomad pada sanad pertama

  3. 3. Abu Daud meriwayatkan hadis ini dari Yahya dari Sufyan dari ‘Ashim dari Zir dari Abdullah bin ‘Amr dari Ras ulullah saw. Secara keseluruhan sanad ini tidak bermasalah sedikit pun, selain sanadnya marfu’ juga para perawinya tsiqqah. Hadisnya terdapat dalam Sunan Abi Daud Juz 4 nomor hadis 1252

  4. Berdasarkan penjelasan di atas, hadis tersebut dapat dijadikan sebagai hujjah. Terlepas dari adanya beberapa perawi yang kurang dan atau tidak berkualitas, hadis ini telah diriwayatkan melalui beberapa sanad (jalur periwayatan) yang cukup banyak dan membuat hadis ini dapat dikatakan sebagai hadis masyhur (terkenal). Dari sisi sahabat, hadis ini diriwayatkan oleh Abdullah bin ‘Amr, Abu Hurairah dan Abu Sa’id
    Al-Khudri. Dari sisi kategori kualitas, At-Tirmidzi menyebutkan bahwa hadis ini termasuk hadis hasan shahih. Artinya, secara individu hadis termasuk hasan tetapi ia menjadi kuat karena terdapat hadis hasan dan shahih lainnya yang diriwayatkan oleh para perawi lain, seperti Abu Daud, Ahmad dan Ibnu Hibban. Dalam hal ini, hadis Ibnu Majah tereliminasi karena dha’if.
    Namun, perlu diingat bahwa pengkategorian hasan dan shahih menurut Tirmidzi berbeda dengan Bukhori dan Muslim. Ringkasnya, kategori shahih menurut Tirmidzi berarti hasanmenurut Bukhori-Muslim, dan kategori hasan menurut Tirmidzi berarti dha’if menurut Bukhori-Muslim.

  5. Hadis ini berbicara tentang kedudukan seseorang di surga nanti bergantung pada ayat Al-Qur’an terakhir yang dibaca. Pada hari kiamat nanti ketika manusia akan masuk ke surga, datang Al-Qur’an dalam wujud yang Allah kehendaki dan berkata: “Wahai Tuhanku, hiasilah orang ini”. Maka Allah memberinya pakaian kemuliaan. Wujud Al-Qur’an itu berkata: “Wahai Tuhanku, tambahkanlah”. Maka Allah menambahnya dengan berbagai perhiasan dan pakaian yang lebih mulia dari sebelumnya. Sosok Al-Qur’an berkata lagi: “Wahai Tuhanku, berikanlah keridhaan-Mu untuknya”. Maka Allah meridhainya dan berkata: “Bacalah Al-Qur’an dan tartilkanlah bacaannya sebagaimana kamu membaca Al-Qur’an di dunia sembari kamu masuk ke dalam surga lalu naiklah terus sampai lidahmu berhenti membaca, maka di surga tingkat itulah kamu tinggal.

  6. Al-Mundziri di dalam kitab Al-Targhib wa Al-Tarhib, bahwa Al-Khattabi pernah berkata, ada atsar sahabat menjelaskan bahwa surga itu terdiri dari beberapa tingkat yang jumlahnya sama dengan jumlah juz Al-Qur’an, yaitu 30 Juz. Setiap tingkat mempunyai keutamaan dan jenis kenikmatan berbeda dengan tingkat selanjutnya dan tingkat yang paling utama dan sempurna kenikmatannya adalah tingkat paling atas (tingkat ke-30). Oleh karenanya, setiap orang yang akan memasuki surga bergantung pada kebiasaan dia membaca Al-Qur’an ketika di dunia. Apabila ia pernah dan istiqomah selalu khatam(tamat) membaca Al-Qur’an hingga akhir hayatnya, maka surga tingkat ke-30 merupakan pahalanya nanti. Sedangkan mereka yang seumur hidupnya selalu membaca Al-Qur’an tetapi belum pernah khatam, maka tingkatan di surga adalah sesuai dengan bacaan dan juz terakhir yang pernah dibaca di dunia. Misalnya, bila seseorang membaca Al-Qur’an sampai Juz ke-10 dan seumur hidupnya belum pernah membaca sampai tamat, lalu meninggal dunia maka balasannya nanti adalah surga tingkat ke-10. Begitu seterusnya.
    Ada satu hal yang perlu diperhatikan di dalam hadis ini, yakni perintah untuk membaca Al-Qur’an dengan tartil. Secara bahasa, tartil artinya sama dengan qiroat, yaitu bacaan. Akan tetapi yang dimaksud di sini adalah membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar. Baik dalam makhraj hurufnya dan benar dalam tajwidnya. Oleh karena itu, hadis ini sering digunakan sebagai hujjah atau dalil keutamaan mempelajari Al-Qur’an. Dimana orang yang mau belajar Al-Qur’an untuk kemudian mengamalkannya, maka pahala keutamaannya adalah masuk surga sesuai dengan tingkatan atau juz yang pernah ia baca semasa hidupnya.
    Wallahu a’lam bis showab.

  7. Lampiran Hadis-Hadis
    Sunan Tirmidzi Juz 10, hal. 156, hadis no. 2838
    حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ الْحَفَرِيُّ وَأَبُو نُعَيْمٍ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ عَاصِمِ بْنِ أَبِي النَّجُودِ عَنْ زِرٍّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَأُ بِهَا قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ حَدَّثَنَا بُنْدَارٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ عَاصِمٍ بِهَذَا الْإِسْنَادِ نَحْوَهُ
    Sunan Tirmidzi Juz 10, hal. 157, hadis no. 2839
    حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ بْنُ عَبْدِ الْوَارِثِ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَاصِمٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَجِيءُ الْقُرْآنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُولُ يَا رَبِّ حَلِّهِ فَيُلْبَسُ تَاجَ الْكَرَامَةِ ثُمَّ يَقُولُ يَا رَبِّ زِدْهُ فَيُلْبَسُ حُلَّةَ الْكَرَامَةِ ثُمَّ يَقُولُ يَا رَبِّ ارْضَ عَنْهُ فَيَرْضَى عَنْهُ فَيُقَالُ لَهُ اقْرَأْ وَارْقَ وَتُزَادُ بِكُلِّ آيَةٍ حَسَنَةً قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَاصِمِ بْنِ بَهْدَلَةَ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ نَحْوَهُ وَلَمْ يَرْفَعْهُ قَالَ أَبُو عِيسَى وَهَذَا أَصَحُّ مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ الصَّمَدِ عَنْ شُعْبَةَ
    Musnad Ahmad Juz 14, hal. 46, hadis no. 6508
    حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ عَاصِمٍ عَنْ زِرٍّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْقَ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا
    Musnad Ahmad Juz 20, hal. 249, hadis no. 9706
    حَدَّثَنَا وَكِيعٌ قَالَ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنِ أَبِي صَالِحٍ عَنِ أَبِي هُرَيْرَةَ أَوْ عَنِ أَبِي سَعِيدٍ شَكَّ الْأَعْمَشُ قَالَ يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ اقْرَهْ وَارْقَهْ فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا
    Sunan Abu Daud Juz 4, hal. 263, hadis no. 1252
    حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ سُفْيَانَ حَدَّثَنِي عَاصِمُ بْنُ بَهْدَلَةَ عَنْ زِرٍّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا
    Shahih Ibnu Hibban Juz 4, hal. 25, hadis no. 767
    أخبرنا محمد بن عبيد الله بن الفضل الكلاعي بحمص حدثنا عقبة بن مكرم ، حدثنا ابن مهدي ، عن الثوري ، عن عاصم ، عن زر ، عن عبد الله بن عمرو ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : يقال لصاحب القرآن يوم القيامة : اقرأ وارق ورتل كما كن ت ترتل في دار الدنيا ، فإن منزلتك عند آخر آية كنت تقرؤها
    Sunan Ibnu Majah Juz 11, hal. 222, hadis no. 3770
    حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى أَنْبَأَنَا شَيْبَانُ عَنْ فِرَاسٍ عَنْ عَطِيَّةَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ إِذَا دَخَلَ الْجَنَّةَ اقْرَأْ وَاصْعَدْ فَيَقْرَأُ وَيَصْعَدُ بِكُلِّ آيَةٍ دَرَجَةً حَتَّى يَقْرَأَ آخِرَ شَيْءٍ مَعَهُ

Kagem Sedulur SSU, sumonggo Nilar Atur wicoro kanti Sae ugi Langkung sifat Amanah

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s